kita bertemu lagi, iya setelah kejadian itu. kejadian yang menurutku sangat pahit dan tak pernah ingin aku ingat lagi. sesaat ketika mata kita saling berpandangan, butuh waktu yang cukup untuk aku menyadari tentang kita yang sekarang. tentang kita yang tidak sama seperti dulu. bukan hanya teman biasa, tapi untuk kata teman pun terlalu suci bagi kita.
lalu ketika kau lebih jauh bertindak, menyapa. aku akan diam beberapa detik, menyadarkan perasaan bahwa itu benar-benar kamu, bukan hanya mimpi. lalu aku berfikir keras apa yang harus aku lakukan? tersenyum kembali, rasanya tidak ikhlas jujur tersenyum pada seseorang yang telah menyakitimu dalam. tersenyum sinis dan ketus, tidak pantas bagiku seperti itu kepada mereka yang sudah berusaha memperbaiki keadaan dan jauh didalam lubuk hatiku sana aku takut kamu tidak mencoba lagi jika aku seperti itu. jutek dan hanya diam, itupun tidak ada bedanya apa salah mu yang menyapaku? kau punya hak yang sama untuk dibalas sapa dengan baik bukan, karena aku tak mau menyakiti siapapun.
sampai kini, aku terus berusaha tidak bertemu mata denganmu. cukup hanya saling lihat dari jauh tanpa berpandangan. sedetik mata kita saling bertamu, semuanya kembali menyeruak dan aku tidak bisa lagi mengontrol nya dengan baik. karena kenangan kita yang sesingkat itu bisa banyak bercerita aku sendiri tersadar, aku benar menyayangimu.
waktu kita sudah habis. perlu waktu lama untuk aku benar-benar menyadari hal ini. bodoh memang tapi jujur, aku ingin kita tak berakhir secepat ini. tak berakhir dengan jalan kita masing-masing. sudah lupakan itu hanyalah harapanku, tak usah kau dengar dan pikirkan.
akankah setelah semuanya selesai, kita bisa berbahagia? mungkin bersama atau pun masing-masing. yang jelas aku tidak pernah tahu apa jadinya jika sudut mata kita kembali bertemu? waktu berakhir tiba-tiba dan tak ada sepatah kata pun yang bisa kita saling ucapkan.
yang terakhir sebelum aku sadar itu adalah perpisahan kita, kau memegang tanganku erat-erat. kufikir itu pertanda bahwa esok kita akan mulai hari baru bersama, ternyata salah. itu ucapan perpisahanmu.
iya, selamat tinggal teman. semoga memang dialah yang terbaik untukmu. selamat berbahagia!
aku kembali ke tempat ini. ntah sejak kapan ini menjadi satu alur yang selalu aku tahu akhirnya, disini di depan jendela ini. kali ini hujan menemaniku merenung. mengantarkan kepergiannya juga menunggu kedatangannya.
iya sudah kali ke 3 mungkin ini, aku berakhir disini. menatap keluar sana dan terus berfikir. aku ini bodoh apa tak berani? aku ini rapuh apa kuat? kali ini sekuat tenaga aku menahan tangis, cukup menurutku bodoh untuk selalu menerimamu kembali tidak untuk menangis setiap kali kamu pergi.
untuk kesekian kalinya, pertanyaannya masih tetap sama dan terus bertambah seiring kamu yang terus datang dan kembali. apa inginmu? apa yang ada dipikiranmu? apa jadinya kita?
…………….
sudah, waktuku sudah habis disini untukmu. 30 menit setiap kau pergi akan menjadi waktu yang selalu bisa lain. jika kamu inginkanku berbaliklah, disini aku di depan jendela kayu selalu merenung apa yang tlah terjadi dan menerka-nerka apa yang akan terjadi nanti? tentang kita-
Op. 020 - [Reverie n. 6], by Jordny
A3 - Pencil on paperMore on http://herrjordny.blogspot.com/